Sunday, December 29, 2013

Penantian

*Terinspirasi oleh lagunya Sheila on Seven, "Sephia"



 Sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini.
Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu.
Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati.


Menjadi bagian dari hidup wanita yang kucintai seperti mengukir ukiran cinta dengan busur panah yang tertancap di atas air. Sungguh sulit sekali.
Wanita cantik yang mempunyai rambut hitam panjang legam yang selalu tergerai indah itu benar-benar memikat naluriku sebagai lelaki untuk menaruh hati padanya. Berkali-kali aku gagal untuk memiliki dia sepenuhnya tapi aku tak pernah menyerah.
Seperti yang Ibu bilang, "Sabar itu tak mengenal kata tetapi. Sabar itu sahabat terbaik dalam hidup ini. Sabar memang tak selalu berujung dengan bahagia. Tapi sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati."

Bukan pria berpostur tinggi dan atletis itulah yang menjadi musuh terbesarku. Bukan. Meski tak bisa dipungkiri jika aku dan lelaki berpostur tubuh atletis itu adalah rival. Pria etletis itu selalu menantangku berduel untuk mendapatkanmu. Maaf wanita yang kukagumi, bukan maksudku mejadikanmu sebagai taruhan atas duel ini. Bukan. Aku hanya ingin mendapatkan dirimu dengan caraku, dengan peluh dan usahaku. Jika memang jalannya adalah menerima tantangan pria berpostur atletis yang selalu mengunjungimu saat hari sabtu tiba.

Sephia, apa kamu bahagia dengan kehadiran pria berpostur atletis itu setiap sabtu tiba? Pria yang menemanimu menikmati kerlap kerlip bintang, menemanimu menghabiskan sabtu malam di serambi rumahmu ditemani kunang-kunang. Sephia, sungguh aku iri melihat kalian berdua yang seringkali duduk berbincang-bincang di serambi rumahmu dengan akrabnya. Tak berani aku menatap kebersamaanmu degannya. Maaf, bukannya aku sombong tak menyapamu setiap kali aku melintas di depan rumahmu usai mengajari anak-anak kecil latihan silat.

Sephia, nyaliku seketika menjadi ciut sebelum melintasi rumahmu yang berpagar coklat terang dengan arsitektur bergaya joglo itu. Motor mewah yang dikenakan pria itu dari jauh sudah terlihat kinclongnya. Membuatku mengerutkan hati untuk sekedar melihatmu sekilas. Sephia, aku tahu jika kamu selalu melihatku melintasi rumahmu dengan sepedah butut peninggalan almarhumah bapakku.

Sephia, aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kamu selalu menungguku di depan serambi rumahmu untuk bertemu denganku atau sekedar melihatku lewat usai mengajar silat. Aku masih ingat ketika dulu kamu berpura-pura menunggu abang bakso yang lewat, padahal kamu tengah menungguku lewat.

Sephia, aku tahu kamu menaruh hati padaku. Wanita mudah sekali terbaca gerak-geriknya saat jatuh cinta. Meski secerdik apapun wanita itu menyembunyikan perasaanya, pasti akan kelihatan juga. Meski bibirmu yang indah seperti bunga merekah itu terus berkata tidak ketika aku menggodamu namun matamu tak mungkin bisa berkata tidak. Bola matamu yang hitam itu selalu menjadi bagian yang aku lihat ketika berhadapan denganmu. Naluriku sebagai lelaki bisa memahami jika kamu menyukaiku.

Sephia, aku juga tak pernah berkata padamu jika aku mencintaimu. Jujur aku tak pernah berkata itu. Sebab aku memang tak berani mengatakannya. Yang jelas aku benar-benar mencintaimu. Cintaku padamu bukanlah cinta yang terencana. Aku tak bisa memperediksi sejak dan sampai kapan aku akan mencintaimu. Cintaku benar-benar tulus dari hati, tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam.

Sephia, jika ada cinta yang terucap dan tak terucap, maka kaulah cinta tak terucapku. Cinta yang tak pernah berkata ada kata love you, jadian atau apapun itu. Cinta kita tumbuh dengan sendirinya. Tanpa rencana, tanpa sebab, bukan karena ada maksud apapun.

Sephia, apa kamu merindukanku? Aku merindukanmu, rindu pada gelak tawamu ketika bergurau dengan adik-adikmu di teras rumah, rindu senyummu yang kau tujukan padaku saat aku tersenyum padamu, rindu pada bola matamu yang hitam jernih itu yang selalu menjadi penyemangatku agar aku mencintaimu. Rindu pada rambut panjangmu yang membuat dirimu semkain cantik bak bidadari turun dari khayangan.
Sephia, sudah hampir dua purnama aku melintasi rumahmu namun aku tak pernah melihatmu di teras rumah. Aku tak pernah melihatmu tengah menunggu abang-abang bakso di hari lainnya, tak pernah melihatmu tengah bermain dengan adik-adikmu atau dirimu yang tengah dikunjungi pria atletis itu. Sephia, sedang apa kamu hingga aku tak pernah melihat sosokmu lagi.
Satu purnama lagi telah aku lewati. Berarti sudah tiga purnama berlalu kita tak bertemu. Sephia, ada apa denganmu? Di purnama ketiga aku tengah berada di kota lain. Mengadu nasib untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Andai kau tahu bahwa ragaku disana tapi hatiku disini. Sephia, aku mencemaskan keberadaanmu. Hingga akhirnya belum genap purnama keempat datang aku sudah memutuskan untuk kembali pulang.

Sephia, rasanya hatiku sudah putus asa. Tak berani aku mengetuk pintu rumahmu untuk bertanya keberadaanmu dan keadaanmu. Aku tak ingin dianggap lelaki pengecut karena ingkar janji. Aku berjanji pada pria atletis itu untuk tidak menemuimu. Ya, pria atletis itu mengetahui apa yang tengah bergejolak di antara kita. Sephia, pria atletis itu terus mencariku, menantangku berduel untuk mendapatkanmu. Kedengarannya konyol dan kekanak-kanakan, tapi memang inilah dunia kaum adam.
Sephia, hingga akhirnya Tuhan yang memberiku jawaban dari kerisauanku selama ini, di suatu pagi yang basah karena hujan semalam yang mengguyur kota ini aku hendak pergi ke rumah kerabatku dan melintasi rumahmu. Sephia betapa risaunya hatiku ketika kulihat dari kejauhan di pagar rumahmu tengah tertancap bendera putih yang di tengahnya terdapat tanda palang merah. Sephia, ada apa di rumahmu. Aku memutuskan untuk menuntun sepedah federal buntut ini. Perlahan mendekati rumahmu.

Sephia, betapa kagetnya aku ketika aku semakin dekat dengan rumahmu melihat orang sedang mengukir namamu dalam batu nisan. Sephia, ku eja nama itu berkali-kali. Masih saja tertera dengan jelas 5 huruf yang selalu kusebut-sebut dalam setiap sujudku untuk menjadi pelabuhan terakhirku, SEPHIA. Sephia, nyatakah ini? Atau mimpikah ini? Benarkah tubuh yang kulihat dari sini seberang jalan sini adalah sosokmu yang terbalut kain jarik dan kain putih dalam ruang tamu? Benarkah mereka yang sedang membacakan surat yasin tengah mendoakanmu yang tengah terbaring kaku itu?

Sephia, benarkah orang yang tengah menangis di sampingmu itu adalah mamahmu? Aku ingin masuk ke rumah itu. Tapi pantang bagiku untuk ingkar janji pada pria atletis itu. Sephia, orang berlalu lalang masuk ke rumahmu, sedangkan aku masih saja berdiri mematung di seberang jalan rumahmu. Mereka datang dengan pakaian hitam-hitam dan berkerudung dengan sesekali berbicara bisik-bisik tentangmu. Sephia, aimataku jatuh. Aku tak peduli sedang dimana aku. Menangis itu tak mengenal jenis kelamin. Sephia, aku benar-benar menangis di depan rumahmu, di seberang jalan, disaksikan orang yang berlalu-lalang melintasi jalan raya, di tempat yang sering kita gunakan untuk bertemu walau tak kurang dari 10 menit.
Sephia, gadis kecil yang sering kau ajak bergurau di teras rumahmu tengah menyeberang jalan, gadis kecil itu menghampiriku. Gadis kecil berambut keriting itu menyodorkan kertas putih untukku dan segera berlaluu meninggalkanku, kembali ke ruang tamu rumahmu.

Sephia, kubaca surat itu.


Cinta itu berarti saling setia dan saling percaya. Aku percaya jika kamu mencintaku, pria berambut ikal dengan kulit hitam legam dan tubuh tinggi. Meski tak pernah terucap kata cinta dari bibirmu. Aku selalu menunggumu melintasi rumahku setiap malam. Setiap hari rasanya aku merindukanmu. Sayang, bukankah rindu itu harus dirawat degan baik. Jangan dibiarkan berkobar karena bisa merusak jiwa. Maaf jika aku memanggilmu sayang, tapi aku memang menyayangimu. Sayang, maaf jika aku meninggalkanmu untuk selamanya tanpa pernah bercerita padamu tentang sakit yang kuderita ini. Sayang, aku tak ingin kamu mencintaiku hanya karena belas kasih seperti pria atletis yang kamu maksud itu. Tidak sayang, aku tak ingin kanker yang menggerogoti tubuhku ini menjadi sebab aku dikasihani. Sayang, dengan cintamu yang tak terucap itu aku merasa terus ingin hidup. Meski setiap hari aku harus menghitung hari menunggu kepulanganku ke rumah-Nya. Sayang, sebulan aku sakit di rumah, sebulan aku dirawat di rumah sakit dan sebulan pula aku memilih kembali ke rumah untuk menunggumu. Namun selama hampir sebulan itu kamu tak muncul juga. Sayang aku lelah, aku rindu, aku rapuh. Maaf hingga akhirnya aku membalas cintamu dengan kejutan yang menyakitkan ini. Sayang, bebaslah kamu menjadi pria. Jadilah pria yang bertanggung jawab dari setiap perbuatan yang kamu perbuat.
Sephia



Sephia, sungguh aku sanggup untuk meninggalkanmu. Tak sanggup menerima kenyataan yang pahit ini, tak sanggup menerima semua kejadian yang serasa mendadak dan mengiris relung hatiku. Selamat tinggal dan selamat tidur panjang kekasih tak terucap. Dan semoga aku dapat melupakanmu cepat.

0 comments:

Post a Comment