Tuesday, December 24, 2013

Mr. Ice Cream

Ini sudah mangkuk es krim kedua yang
aku lahap malam itu, tak peduli aku
sudah dua jam duduk di kedai ini.
Pelayan tua kedai itu kadang sesekali
memalingkan tatapannya dari Koran
pagi harinya kearah ku. Mungkin dia
pikir aku kurang waras, di cuaca
sedingin ini dan sedang hujan deras
diluar sana, ada gadis yang masih
menikmati es krim sampai mangkuk
kedua, tenang saja pak tua gumam ku
dalam hati mungkin akan ada mangkuk
yang ketiga, keempat, kelima dan
seterusnya. Aku tak peduli.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati,
tatapanku hanya menatap kosong pada
suatu titik sembarang di sudut kedai itu.
kenangan demi kenangan aku putar di
pelupuk mataku, seperti komedi putar
yang sedang memutar scene demi scene.
Membuat hati ini campur aduk dan
sedikit sesak. Me-rewind semua
rutinitas gila makan es krim ini dari
mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
***
Tiga tahun yang lalu
Di kedai es krim yang sama, Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatapku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air
mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer
pipiku, protes melihat ekspresi ku yang
menipu. Aku lantas mengerenyit sambil
mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Dion. Dion dan Aku
pertama kali bertemu di laboratorium
praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang
tertinggal di laboratorium. Disitulah
kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut
dua tahun lebih tua dari umurku.
Dion mengambil cuti selama satu tahun
di awal perkuliahan oleh sebab itu ia
sering meminjam buku catatanku untuk
mengejar ketinggalannya. Sebagai
imbalan nya Dion sering mentaktirku es
krim.
Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah
pertemanan kami semakin akrab.
Dion dan aku adalah sosok manusia yang
mempunyai hobi yang bisa dibilang
terbalik, Dion adalah cowok dengan hobi
membuat cake atau makanan manis.
Sedangkan aku adalah cewek dengan
hobi nonton sepak bola dan nonton serial
kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik
bukan?
Mr. ice cream adalah panggilanku
untuknya. Cowok berbadan kurus dan
tinggi ini bisa di bilang addicted dengan
es krim seperti sesuatu yang tak bisa di
pisahkan. Karena hobi dan mimpinya
ingin mempunyai usaha di bidang kuliner
itu, Dion mengambil cooking class
khusus membuat pastry. Dion termasuk
golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang ia tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.
Sore itu, Dion dengan sengaja menculikku dari kampus, ia mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihatbseperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.
Dion bercerita sambil menerawang
kearah langit-langit, kalo dia sering
makan es krim disini ketika masih kecil
bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan
kegemaran nya makan es krim, alasan
dirinya suka sekali makan es krim
karena ibunya pernah mengatakan
bahwa makanan yang manis itu bisa
mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang
masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena
antusias dengan apa yang ia lakukaan
atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim
bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya
aku tertangkap mata karena menatapnya
lamat-lamat, aku memalingkan wajah
dan menyibukan diri dengan mengambil
roti tanpa isi dan ku jejali roti itu
dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es
krim sama roti” protes nya sambil
tertawa kecil melihat kelakuanku
melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh!” sambil
menyodorkan roti isi eskrim kepadanya
sebagai upaya mengkamufalse salah
tingkahku barusan. Dion lantas mencoba
mengunyahnya dengan lahap, lalu
tersenyum lagi tanda setuju kalo itu
kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang kamu yang
ketularan rakus” aku tertawa puas.
Dan Dion menjewer pipiku lagi. Kami
pun kembali tertawa riang. Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Dion seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami
tidak pacaran, tepatnya Dion punya
pacar.
Dion berpacaran dengan
Nayla. Mengenai Dion dan Nayla
aku tak tahu banyak karena, Dion jarang
sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin
pertemanan semenjak mereka duduk di
bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Nayla adalah gadis cantik, anggun, smart dan
terlihat kalem, menurutku Nayla seperti Dion versi cewek. Hanya itu
yang ku tahu.
“Pulang yuk Ran, nanti ketinggalan
jadwal nonton Tsubatsa.” ajak Dion
kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku
sambil beranjak dari kursi. Mengikuti
punggung Dion yang sudah berjalan
terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
***
Dua tahun yang lalu.
Di kedai es krim yang sama.
Dion tersenyum simpul penuh arti dan
terlihat lebih menarik dengan kemeja
abu-abu bermotif kotak-kotaknya, kali
ini rambutnya terikat rapih.
“Ta daaaa, Happy Birth Day” Dion
menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku
tak menyangka. Sebuah surprise!!
Malam itu di hari ke lima belas di bulan
September, Dion membuatkanku kue
ulang tahun dengan motif bola dengan
dominasi warna merah dan kuning, seperti warna club kesukaanku, AS Roma. Lengkap dengan tulisan “happy Birth Day Rani.” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.
“Jangan lupa berdoa dan make a wish ya." Dion tersenyum simpul lagi.
Aku meniup lilin angka kembar itu, dan
memejamkan mata dalam dua detik
membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja.
Menikmati kue tart buatan Dion dan es
Krim tentunya.
“Rio, belum telepon juga?” Dion
bertanya singkat.
Rio? Kenapa Dion nanya Rio lagi
sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat
cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya
seminggu yang lalu, jadi sekarang dia
sudah menyandang gelar mantan pacar.
Rio dan Aku bertahan pacaran hanya
lima bulan saja. Kami menjalani
hubungan LDR alias Long Distance Relationship, atau pacaran jarak jauh,
Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai
terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang
tidak pernah suka dengan hobiku yang
menyukai sepak bola. Terkadang itu
menjadi bahan pertengkararan kami.
Pada akhirnya kami memutuskan
hubungan secara baik-baik. Tak ada
yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia
sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah
bagiku, lalu ku hanya diam dan
menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Dion. Hening
sejenak. Aku menunggu Dion
melanjutkan kalimatnya.
“Ayah dan Adik sudah telepon.” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat
lalu membalas senyumannya
“Tentu saja, itu yang penting.” timpalku kepadanya.
"Kamu juga penting buat aku Dion."
Dion selalu peduli dan selalu mencoba
menghiburku. Seorang teman yang
selalu ada untukku, diberikan surprise
seperti ini adalah pertama kali dalam
hidupku, ada orang lain di luar anggota
keluargaku yang membuat perayaan
spesial seperti ini khusus untukku hanya
seorang teman seperti Dion yang
melakukannya.
Teman? Lalu bagaimana dengan Nayla?
Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba
muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin
tahu detail bagaimana Dion memperlakukan Nayla?
Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Dion membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.
“Rahasia.” Aku menjawab spontan. Lalu
memasang muka jahil.
“Pelit.” Dion pura-pura ngambek.
anyway Dion, thank a lot, you're my
best." Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
Any time, Ran.” balas Dion tersenyum simpul.
Malam itu diumurku yang bertambah,
Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang
dalam diamnya terlihat cool dalam senyumnya terasa manis, dan dalam
katanya terdengar lembut. Dia yang
membuatku menyadari sesuatu itu ada,
tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu
itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan
berdetak, dan kadang membuat dada ini
sesak.
***
Segerombolan awan hitam, tak hentinya
menumpahkan air kebumi, menadakan
besarnya kerinduan langit pada bumi.
Debu-debu yang menempel di jalanan
dan gedung tua pun ikut terhanyut
olehnya, membuahkan aroma tanah yang
menyaingi aroma roti yang baru keluar
dari pemanggangan sore itu. Kedai itu
tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.
Dua jam yang lalu, aku dan Dion duduk
bersama di kedai ini, wajahnya sudah
tak sepucat dan setirus dulu, rambut
nya pun tak seberantakan dan sepanjang
satu tahun yang lalu, Dion terlihat baik-
baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Dion.
Dia bersikap dingin, sedingin es
krim di mangkuk dan cuaca di luar
sana.
“Kenapa gak ada kabar Ran?” Dion
menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang Dion, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang
sebenarnya.
“Aku sibuk Ion” Aku berbohong. “Maaf Ion aku memang keterlaluan” ucapku
sekali lagi. Menahan air mata yang
nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Dion
langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya
hanya mendengar kata maaf dari
seorang sahabat yang hanya pamitan
lewat sms dan setahun kemudian tak ada
kabar sedikitpun seperti menghilang di
telan bumi. Aku tahu Dion pasti marah
hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan
ini makin menguasai, persahabatanku
dengan Dion terasa bias, tepatnya hanya
aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Dion yang selalu bersikap baik
kepadaku.
Karena dengan sikap Dion yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkasnya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan.
Maka ketika kesempatan bekerja di luar
kota itu datang aku tak menyiakannya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucapnya tenang.
Aku mendongak, menatapnya lekat-
lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depannya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas.
Mulutku kembali terbuka, namun tak
bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Dion sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Dion selalu baik
dan memaafkanku yang bertindak bodoh.
“Lalu bagaimana denganmu Dion?” ucapku terbata.
Dion tak menjawab, dia mentapku lekat-
lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan
membingungkan bagi Dion sehingga
membuat penasaran, terlihat dari raut
wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan
atas sikapku ini. Namun Dion menyerah, dia menghenyakan kembali
punggungnya kesandaran kursi. Sedikit
demi sedikit suasana diantara kami pun
mencair, seperti es krim di mangkuk ini
pun mencair.
***
Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan
kerinduan pada kedai ini, kerinduan
pada Es krim, kerinduan pada Dion.
Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku
tertuju ke suatu benda di atas meja,
benda yg sedikit tebal dari kertas,
berwarna merah, pemberian Diom dua
jam yang lalu.
Entahlah sudah berapuluh kali aku
membolak balik benda itu, dan entahlah
lah sudah berapa kali hati ini merasa
terbolak balik karena melihat isinya.
Sebagai teman ini adalah kabar baik
untukku, namun sebagai orang yang
sedang tertimpa perasaan aneh ini
adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana
aku harus menempatkan diriku sendiri?
Butuh setahun aku men-sinkronisasi-
kan antara hati dan logika ini untuk
mendapatkan jawabnya, di mangkuk es
krim yang ketiga ini aku baru dapat
pemahamanya, bahwa tak pernah ada
yang berubah dari sikap Dion kepadaku,
dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-
lah yang terlalu egois, tak mau ambil
tindakan serta resiko untuk menyatakannya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Dion terluka.
Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku
lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan
tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya
membalas senyum sekedarnya.
Perasaanku masih campur aduk dan
terasa sesak. Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Stasiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku akan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Dion dan Nayla. Aku akan hadapi semuanya,
lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.
Biarlah aku menelan semua pahit dan
sakitnya perasaan ini, Dion dan waktu
yang akan mencernanya. Karena aku
tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat
sementara,
Karena secorong es krim akan menjadi obatnya bukan???

0 comments:

Post a Comment