Wednesday, March 11, 2015

Hujan dan Kehidupan

  
11, Maret 2015


 Hujan datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari, seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau, resapan tanah, hingga ke muara laut, semua dilakoni.

**—**

   Di dalam sebuah pertemuan, pada suatu pagi yang dingin.
"Aku datang untuk mengajarkanmu bahwa hidup adalah perputaran. Kau harus percaya itu!" Ucap hujan kepadaku yang sedang setengah limbung."
Aku berpetualang sampai ke negeri manapun, lalu dapat pula kembali kesini lagi. Karena apa? Karena aku punya harapan." Lanjutnya. Aku berusaha mencerna kata-katanya. Kali ini aku ling lung.
"Mengikuti arus Ciliwung, lalu menerjunkan diri ke Niagara, lantas juga membekukan diri di Antartika."
    Aku mulai terkesima. Sepertinya aku mulai dapat mengerti perkataannya. Dengan wajah sok lugu, aku berkata "Lalu kenapa sekarang kau menjadi bah di Ibukota? Coba jelaskan padaku dengan serta-merta!"
    Ia terdiam sebentar, lalu tertawa sejadi-jadinya. Aku diam. Tertawa pun enggan. Apakah itu lucu? Memang perangainya aneh. Ia masih terbahak. Cukup lama.
    "Kau tahu kenapa sebabnya? Kau tahu!" Ia menggelegar seperti malaikat pencabut nyawa. Aku ingin menarik perkataanku tadi. Bodoh! Mengapa aku menanyakan pertanyaan retoris macam itu?
    "Manusia memanglah bodoh! Aku datang untuk menunjukkan padamu, bahwa hidupmu tak selalu indah. Bahwa keindahan hidupmu seringkali pudar karena ulahmu sendiri!"
   Aku dikeroyok perasaan bersalah. Rasanya ingin menghilang dari hadapannya. Triiing.... Tapi sayangnya belum ada teknologi teleportasi macam itu. Ah, sial!
   Tiba-tiba, pintu tak terkunci itu terketuk. Aku tak tahu siapa yang hendak datang. Berharap ada yang segera mengevakuasiku dari keadaan darurat ini. Sang sampah datang. Aku kaget bukan kepalang. Dengan pakaian lusuhnya, ia melangkahkan diri tanpa pura-pura. Para ajudannya menyertai, lalat dan belatung. Baunya menusuk hidung, aku jadi makin murung.
    "Jawab! Kenapa kau diam?" Sang sampah menggebrak meja. Jiwaku jadi luluh-lantah. Rasanya ingin hilang ke negeri antah berantah. Aku digandrungi mereka berdua, rasanya ingin muntah.
    "Aku… A-a-ku…"

**—**

   Hujan datang lagi. Menghanyutkan jejak-jejak kenangan. Kulihat televisi, katanya “Banjir Mengepung Ibukota”. Kulihat koran, katanya “Air Bah Lumpuhkan Jakarta”. Aku meneguk segelas teh panas. Melakoni lagi hidup ini, sebagai penyaksi antara hidup yang penuh sensasi-ilusi.

3 comments:

  1. ini cerita pribadi?
    menyentuh :)

    oia, salam kenal :)

    Rgrds,
    Bena
    www.benbernavita.com
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga @Bena... :)
      Semoga ceritanya dapat menginspirasi....!!! :)

      Delete
  2. Hujan Dan Kehidupan ~ Coretan Pena Iwantotti >>>>> Download Now

    >>>>> Download Full

    Hujan Dan Kehidupan ~ Coretan Pena Iwantotti >>>>> Download LINK

    >>>>> Download Now

    Hujan Dan Kehidupan ~ Coretan Pena Iwantotti >>>>> Download Full

    >>>>> Download LINK

    ReplyDelete