Sunday, March 29, 2015

Pria Aneh Bertopi



   Sudah dua hari ini aku melihat lelaki yang bertopi itu duduk sendirian di depan sebuah toko di perempatan jalan. Tapi anehnya ia selalu melakukannya di malam hari. Dan apabila pagi atau siang hari ia tak nampak di depan toko itu. Aku sebagai warga kampung yang rumahnya terdekat dengan toko itu sudah selayaknya memiliki rasa curiga dan berusaha mengikuti gerak-gerik lelaki itu.

   Malam berikutnya kembali aku melihat lelaki bertopi itu duduk sendiri di depan toko. Sesekali ia menundukan wajahnya dan sesekali pula ia memandangi beberapa mobil dan motor yang lewat. Dari kejauhan kuikuti gerak-gerik lelaki yang mencurigakan itu. Sebenarnya aku sendiri berkeinginan untuk dapat mendekati lelaki itu. Basa-basi atau sekedar berbicara ringan. Siapa tahu ia dalam kesusahan mencari alamat keluarganya di sekitar kampung ini. Atau mungkin siapa tahu dia betul-betul ingin mencuri toko itu. Atau mungkin? Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul dan mengisi penuh pikiranku.

   “Maaf, boleh saya duduk di sini?” Tanyaku pada lelaki yang bertopi itu ketika ia akan menyulut rokoknya.
   “Silakan.” jawabnya acuh sambil mematikan api koreknya.
   “Terima kasih.” kataku berusaha sesopan mungkin sambil duduk di sebelahnya. Kulirik lelaki itu diam termangu sambil mempermainkan asap-asap rokoknya. Ia nampaknya tidak mempedulikan kedatanganku di sisinya.
   “Barangkali sedang menunggu seorang teman?” Tanyaku sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana. Ia menoleh dan menatapku tajam-tajam. Di keremangan lampu lima watt, nampak jelas sorot matanya menatap tajam ke wajahku. Ia seperti berusaha mengelupas kulit di wajahku, menikamkan kecurigaan dengan api sorot matanya.
   Sesekali rokoknya diisapnya kuat-kuat lalu asapnya dihembuskan sembarangan ke wajahku. Kutarik nafas dalam-dalam, aku semakin tak mengerti tentang status lelaki ini.
   “Dan kau sendiri?” Katanya tiba-tiba kepadaku dengan suara yang berat.
   “Aku?”
   “Ya, kamu.”
   “Ah, aku sendiri hanya ingin duduk di sini. Tak lebih.”
   “Hemm…kenapa memilih duduk di sini dan tidak di tempat lain saja?” Tanyanya ketus sambil memperbaiki letak duduknya. “Apa kau ingin mencari teman duduk atau ngobrol?” Lanjutnya dengan suara semakin datar.
   “Benar. Aku memang membutuhkan seorang teman sekaligus kawan ngobrol untuk sekedar membunuh rasa sepi.” jawabku berbohong. Dan lelaki itu hanya diam saja tanpa reaksi sedikit pun. “Kebetulan aku sering melihat saudara duduk sendiri di tempat ini. Barangkali kita ada kesamaan.”

   “Maksudmu, aku sedang kesepian?”
   “Mungkin begitu.” jawabku sekenanya.
  “Saudara jangan mengacau. Aku bukan tipe orang seperti yang anda sebutkan tadi, kesepian. Jangan samakan aku dengan anda. Dan lagi, aku paling tidak suka pada seseorang yang menaruh prasangka sekehendak hatinya.” kata lelaki itu tiba-tiba dengan suara yang bergetar dan nadanya kurang menyukai basa-basiku. Sepertinya ia tersinggung dengan kata-kataku tadi.
   
   “Maaf, aku sebenarnya ….”
  “Ya, aku tahu maksud saudara.” potongnya. “Aku sendiri melihat anda tidak hendak mengganggu ketenanganku. Aku lihat dari tutur kata dan gerak-gerik saudara. Baiklah, malam ini kita mulai menjadi kawan.” lanjutnya sambil menjabat tanganku kuat-kuat. Aku pun membalasnya. Ah, ternyata dengan kerendahan hati dapat juga meluluhkan lelaki ini yang sebelum kukenal wajahnya terlihat amat angkuh, egois, dan pendiam.
  
   “Sudah beberapa hari ini aku melihat anda duduk sendiri di sini. Barangkali ada yang dicari atau dinanti di sekitar daerah ini?”
    “Pertanyaan yang penuh kecurigaan.” jawabnya sinis sambil melemparkan sisa rokoknya.
   “Tidak. Sama sekali tidak.” kataku sambil mencoba mengurangi suasana yang kaku dan kurang enak. “Sama sekali aku tidak mencurigaimu.” lanjutnya sambil kupegang lengan tangannya.

  “Ya…ya…., aku tahu. Aku juga tidak menuduh anda begitu. Apalagi menuduh anda sebagai bagian dari siskamling di kampung ini. Tidak. Kuanggap anda sudah sebagai kawan, meski baru kenal beberapa waktu yang lalu. Maaf. Aku sebenarnya ingin juga meminta pendapat anda sebagai kawan. Biasanya kawan selalu siap memberikan pertolongan atau saran jika diminta. Bagaimana?”

Ada kesan suasana sudah mulai cair. Nada suaranya sudah datar dan sedikit agak bercanda. Aku mencoba menatap wajahnya yang bertopi itu. Ia tertunduk.

   “Langsung saja. Saran apa yang harus kuberikan?”
   “Hei, kita harus ingat kalau segala persoalan itu harus diurut secara teratur dan sistematis, biar nantinya bisa jelas dan lancar.” suara lelaki itu sedikit serak dengan nada menasehati.
“Oke, kalau itu memang keinginan anda.”
“Hemmm, begini”. Ia terdiam sejenak, sepertinya ada beban berat yang tak ingin disampaikan kepadaku. “Saya punya istri sedang hamil lebih delapan bulan”, ucapnya pelan sambil menengadah ke langit. “Anda tentu sudah mahfum kalau wanita yang sedang hamil selalu mempunyai permintaan yang aneh-aneh.”

   “Ngidam maksudmu?”
   “Ya. Dan yang aneh istriku tidak mengidam seperti wanita hamil lainnya yang minta buah-buahan atau makanan lainnya. Istriku hanya punya keinginan supaya saya mau melepaskan topi yang saya pakai ini.” katanya dengan sedih sambil menunjukan ke arah topi yang ia pakai. “Sebenarnya istriku sudah meminta hal ini sejak kandungannya berumur dua bulan. Tapi aku masih pikir-pikir untuk melepaskan topi ini dan sebisa mungkin aku akan mempertahankan topi yang saya pakai ini. Topi ini punya sejarah panjang dalam hidupku.” sambungnya lagi sembari menyalakan sebatang rokok.

   “Ohhh, begitu. Kenapa tidak dituruti saja permintaan istrimu itu? Kukira topi yang anda pakai tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam kehidupan sehari-harimu. Topi hanyalah sebuah benda penangkal terik matahari, titik. Jadi kukira pakai topi atau tidak sama saja. Anak yang ada dalam kandungan istrimu tentu lebih penting dibanding topi itu." kataku sedikit menasehati dan sekaligus permohonan agar keinginan istrinya didahulukan dari pada mempertahankan topi yang tak jelas manfaatnya.

   “Jangan sok tahu. Ini masalah prinsip dan sekaligus menyangkut identitas diri. Anda tahu, aku memakai topi ini sudah lebih dua puluh tahun lamanya dan aku amat sangat mencintai topi ini. Inilah identitasku.”
   “Tetapi semuanya kan demi istri dan anak yang ada dalam kandungannya. Kenapa anda begitu sampai hati terhadap istri? Kenapa hanya masalah topi atau identitas, anda harus egois terhadap istri? Kenapa…..”

   “Cukup!” Ia memotong ucapanku dengan sedikit membentak. Aku terkejut melihat perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu. Lalu lelaki itu berdiri, berkecak pinggang, dan dimasukan tangan kanannya di saku celananya. Sebentar kemudian ia nampak menarik nafas dalam-dalam. Aku hanya mampu tertunduk menyesali apa yang sudah kuucapkan tadi.
   Ketika aku mendongakan kepala, lelaki itu sudah pergi ke arah selatan. Makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap di tikungan jalan.

  Dua malam berikutnya aku menjumpai lelaki itu duduk sendiri dan tak memakai topi. Akhirnya mau juga ia melepaskan topinya, pikirku. Ketika aku mendekat dan duduk di sampingnya, ia tak bereaksi sedikit pun. Sementara di lantai dekatnya duduk, berserakan putung-putung rokok. Ia nampak gelisah dan merokok tak putus-putus. Sekilas wajahnya nampak murung.
   “Anda lihat kalau malam ini aku tak memakai topi.” ucapnya agak gemetar. “Topi itu telah kukubur bersama istri dan anakku. Istriku meninggal saat melahirkan dan bayinya menyusul beberapa menit kemudian. Istriku mengalami pendarahan yang hebat saat aku pulang dari sini beberapa malam lalu.” katanya lagi dengan sedih dan gemetaran.
   
  “Ahhh!”. Hanya itu yang sempat keluar dari bibirku. Dan lelaki itu pun beranjak pergi entah ke mana.
   
   Sementara gerimis mulai turun. Malam semakin dingin dan sepi, seperti lelaki aneh itu yang hilang ditelan malam.

1 comments:

  1. Pria Aneh Bertopi ~ Coretan Pena Iwantotti >>>>> Download Now

    >>>>> Download Full

    Pria Aneh Bertopi ~ Coretan Pena Iwantotti >>>>> Download LINK

    >>>>> Download Now

    Pria Aneh Bertopi ~ Coretan Pena Iwantotti >>>>> Download Full

    >>>>> Download LINK

    ReplyDelete