• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Sunday, August 31, 2014

Draft

Maafkan aku ya Allah, bukan maksud hati aku mengeluh, namun ini hanyalah sebuah curhatku untukMu

Terlalu sakit, terlalu menyesakkan. 
Aku cuma ingin mamaki, mengutuki. 
Aku cuma ingin sedikit mengecap rasanya lega. 

Sepertinya hidup ini terlalu berkhianat terhadapku. 
Aku bingung diantara aku yang mengendalikan hidupku atau hidupku mengendalikan aku. Atau malah hidupku dikendalikan dunia ini? Entahlah. 
Terlalu membingungkan, terlalu menyakitkan. 

Jika saat ini salah, mengapa tak dimaafkan saja? Aku bisa berubah. Aku bisa untuk tak mengulangi kesalahan ya sama. Aku tidak bodoh, aku memahami setidaknya sedikit tentang dunia ini, dunia dimana aku menjalani hidup bodohku ini. 
Jika aku salah, mengapa tak kau hukum saja aku dengan cambuk keadilanmu itu? Jangan biarkan aku menghukum diriku sendiri., karena pada akhirnya bagiku hukuman yang aku berikan tidak akan pernah cukup. Yang ada aku hanya akan terus tersiksa. 

Mungkin hidup memang begini. 
Mungkin dunia harus begini. 
Dan mungkin aku juga memang harus begini. 

Saturday, August 30, 2014

Today

Hidup hari ini mengajari aku cara untuk mengampuni, karena bukan hakku untuk menghakimi.

Hidup hari ini menyadarkanku siapa sesungguhnya kawan, mereka yang bukan sekedar tertawa bersama namun tau perih hati tanpa mendengar cerita yang terjadi.
 
Hidup hari ini membimbingku untuk menahan diri, karena jika aku selalu dipenuhi dengki hanya sakit hati yang akan kudapati.
 
Hidup hari ini banyak hal yang kulalui, banyak sakit hati yang kualami, banyak air mata dan emosi yang kutahan agar tak terjadi. 
 
Namun, hidup hari ini juga sungguh penuh arti, dimana aku bisa belajar mengasihi dan membenahi diri untuk hidup esok hari.

    @Bengkel & Steam, Rorakan.

Thursday, August 21, 2014

Bukan Pasangan Sempurna

Pagi-pagi udah dapat ilmu dari Radio (Lupa siap MC-nya)...

Diabadikan dulu lah... (Mungkin aja berguna buat sobat bloggers) :) :)

1. Hadirnya dia bukan soal
pandainya kita, tapi Allah yang
mengarahkan hatinya pada kita
#BukanPasanganSempurna.

2. Lalu dia menjadi sosok yang bersanding di hati, tanpa kita tahu sebelumnya dia siapa.
#BukanPasanganSempurna.

3. Dia duduk terdiam di depan kita, hanya ingin diyakinkan bahwa
memang tepat untuk kita
#BukanPasanganSempurna.

4. Sebulan dua bulan merenda cinta dari benang yang sama,
ketulusan dan kesabaran menerimanya.
#BukanPasanganSempurna.

5. Setiap orang punya momen
buruk, apakah dengan satu
keburukan kita akan melupakan
momen baik bersamanya.
#BukanPasanganSempurna.

6. Ia bukanlah toserba, semua
yang kita butuhkan ada padanya.
Ada kalanya dia bilang, maaf aku
tak punya.
#BukanPasanganSempurna.

7. Kadang pendengarannya tak
cukup mampu menangkap maksud
kita.
#BukanPasanganSempurna

8. Kadang tangannya tak seberapa kuat menahan beban kita. Dan dia tetap berusaha utk membuat kita bahagia.
#BukanPasanganSempurna.

9. Kadang matanya tak
seberapa awas melihat lobang
mengaga di depannya, padahal dia
membawa kita sebagai
penumpangnya.
#BukanPasanganSempurna.

10. Kadang lisannya tak seberapa
pintar mengungkapkan
perasaannya, tapi kita paham apa
yg dia katakan.
#BukanPasanganSempurna.

11. Kita sering menuntut dia tuk
Wow, padahal kita tidak pernah
bisa WOW di matanya
#BukanPasanganSempurna.

12. Mungkin dia bukan sosok
romantis, tapi tahukah kita selama
ini dia berusaha untuk itu?
#BukanPasanganSempurna.

13. Mungkin dia bukan sosok
paling bisa diandalkan, tapi
tahukah selama ini dia mencoba
tidak mengecewakan kita?
#BukanPasanganSempurna.

14. Kadang dia nampak
membingungkan, tahukah dia
bingung karena memikirkan kita?
#BukanPasanganSempurna.

15. Ia akan hadir melengkapi
kekurangan kita, sebagaimana kita
hadir melengkapi kekurangan dia
#BukanPasanganSempurna.

16. Jika jalan pernikahan tak
semulus yg diharapkan, maka doa
dan sabar serta shalat akan jadi
penolong kita.
#BukanPasanganSempurna.

17. Jika kata kata indah sudah tak
lagi mempan, maka dibutuhkan
semangat perubahan menjadi lebih baik di masa mendatang.
#BukanPasanganSempurna.

18. Suami mungkin tidak selihai
politikus dlm berjanji, karena dia
terlalu jujur pada hatimu.
#BukanPasanganSempurna.

19. Jika suami tak pandai
memotivasi seperti motivator,
karena ia hanya ingin terlihat aseli
di matamu.
#BukanPasanganSempurna.

20. Dia mungkin tak pandai
meramaikan suasana bak MC, tapi
dia tahu kapan berada di sisimu
selalu.
#BukanPasanganSempurna.

21. Dia tak bersuara merdu bak
penyanyi pujaanmu, tapi dia tahu
kapan berbisik lirih di telingamu
#BukanPasanganSempurna.

22. Dia mungkin tak segagah
atlit, tapi dia akan berusaha terus
menerus bersamamu bahkan di
saat kau sakit.
#BukanPasanganSempurna.

23. Dia mungkin galak, tapi
galaknya itu karena ingin menjaga
mutiara tetap di hatimu.
#BukanPasanganSempurna.

24. Mungkin banyak orang yang
lebih cakep, tapi dia adalah
amanah bagimu. Dia layak tuk kita
muliakan.
#BukanPasanganSempurna.

25. Mungkin banyak lelaki yg
lebih gagah, tapi dia paling gagah
dengan segenap cintanya padamu
#BukanPasanganSempurna.

26. Maka mhonlah ampun atas
kurangmu memuliakan
pasanganmu. karena mereka ada
tuk bahagianya kita.
#BukanPasanganSempurna.

27. Saat dia tidur tataplah
wajahnya. Itulah wajah yang
selama ini berusaha
membahagiakanmu dengan
tulusnya dia.
#BukanPasanganSempurna.

28. Maka sediakan dirimu tuk
membantunya, menjadi hamba
yang ingin nampak sempurna di
hadapan Rabbnya.
#BukanPasanganSempurna.

29. Mungkin byk wanita yg lbh
cantik dr istri kita, tp istri itu
amanah yg harus kita jaga. Dia
layak mdpt kesetian kita.
#BukanPasanganSempurna.

30. Dia tidak minta dilahirkan tak
sempurna, maka kenapa dia harus
disalahkan atas
ketidaksempurnaannya?
#BukanPasanganSempurna.

31. Lepaskan egomu, dia
memilihmu sebagaimana kamu
memilihnya. Lengkap dengan lebih
dan kurangnya kamu.
#BukanPasanganSempurna.

32. Jangan lihat pada gosongnya
kue yg dia masak, tapi lihat betapa
dia sungguh2 mempersiapkan
makanan itu sebelumnya.
#BukanPasanganSempurna.

Perempuan

Menjadi perempuan seharusnya
membuatmu mampu belajar sabar
lebih dari sabarnya seorang lelaki,
belajar kuat lebih dari kuatnya
seorang lelaki, belajar mandiri lebih dari mandirinya seorang
lelaki.

Menjadi perempuan seharusnya
membuatmu pintar menempatkan
dirimu, pintar mengontrol emosimu, pintar menjaga harga
dirimu. Sebab lelaki mudah sekali goyah, dia butuh bahu yang kuat
tempatnya bersandar, dan ya, dia
butuh hati yang hangat untuk
tempatnya pulang setelah lelah
mengembara.

Dia butuh sosok wanita yang dia
percaya kelak anaknya bisa berkata

“aku punya seorang ibu yang
hebat.”

Jadi, sudah cukup baikkah dirimu untuk "Dia" yang kau tuntut baik????

*Think_Again* !!!
*Tuing* :D :D

Saturday, August 16, 2014

Andai Daun itu Uang

   Coba, di dunia ini nggak ada uang. Setidaknya, segala sesuatu memang memiliki nilai tapi tidak
dengan nilai materialistik seperti
saat ini. Atau jika uang memang
harus terus dan tetap ada di
dunia, bisakah daun-daun itu jadi
uang?

Semisal Tere Liye bilang, Daun yang jatuh tidak akan membenci
angin (Gramedia Pustaka, 2010)

Daun yang jadi uang itu akan sangat disyukuri banyak orang
jika berguguran ke tanah. Jadi,
daun itu tak perlu sedih kalau
musti jatuh tanah. Mereka akan
sangat berguna.

Tapi ya gimana, hal itu nggak
mungkin bisa terjadi. Maksudku,
mungkin beberapa orang tidak
akan pernah menganggap bahwa
daun itu sangat berharga dampai daun-daun itu hilang. Dan sampai
saat ini uang masih terus mendominasi dunia. Dalam gerak-
gerik yang aku lakoni sekarang,
semuanya berbasis tentang uang.

Di saat aku melirik iri ke arah
kawanan yang tertawa karena
kemampuan materi, aku dan
sebagian teman lain yang senasib
Cuma bisa mencibir, “Cih.. orang
berduit, Wajar.”

Ah....
Aku benci uang, tapi aku butuh uang, dan aku juga pengen uang...

   Panumbangan, 16 Agustus 2014
    

Friday, August 15, 2014

Menyapa Angin

Ya Allah... Berilah aku keberanian untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya....!!!!

*****

   Pagi tak pernah terasa pagi bagiku. Tidak ada perbedaan pagi,
siang, sore dan malam yang signifikan aku pikir. Semuanya
sama, gelap terang terasa sama.
Karena selalu ada dia yang
menetralkan suasana hatiku.
Bagiku, dialah angin pagi yang
berhembus semilir dalam
benakku, berputar-putar seperti
angin siklon yang tiada henti.
Menjadi pelampiasan yang terus bergelut dalam hari.
Dia adalah dia, yang kupuja dan
kunikmati di pagi hari.

“Hei, pagi?”
Dia menengok ke arahku sebentar
kemudian kembali mencermatiku
buku cetaknya yang agak tebal.
Apakah dia mendengarku? Atau
hanya mencari gerakan untuk melepas rasa penat yang menumpuk?

“Hei, pagi?”
Dia kembali menoleh,
menampakkan binar wajahnya yang berseri seperti angin segar di
sore hari.
Aku terdiam cukup lama.
Memandangnya dalam ruang
semuku yang berlapis gelap, walau esok telah pagi sekali pun.

“Hei, pagi?”
Semua salam dan sapaku ternyata
tercekat di tenggorokan, ditarik
dan dimasukkan paksa ke dada.
Semuanya semu. Tidak ada yang
benar-benar kuucapkan untuk ia
dengar. Entah tadi ia menoleh ke
sini untuk apa, aku pun tidak tahu.
Yang jelas keberanianku selalu
luntur begitu saja, aku tak pernah
mampu mengucapkannya. Aku
tak pernah mampu bersikap
persuasif untuk mengadakan adu
argumentasi dengannya. Mengapa
aku begitu penakut?

Dan hari ini, ketika para penuntut
ilmu yang kukira ilmu tidak memiliki kesalahan hendak.bergegas ke pengadilan pendidikan, aku lagi-lagi hanya
terkurung dalam keinginan konyol
yang tak akan pernah bisa kuraih.

Aku hanya dapat melirik malu-
malu pada sesama penanti bus di
halte biru yang atapnya penuh
dengan bunga bugenvil. Membuat
suasana menjadi terlihat bersahaja dengan cinta. Seperti
alur drama yang dibuat-buat.

Hampir dua tahun ini aku
menjalani rutinitas konyol di pagi
hari, menunggu bus di halte
hanya untuk bertemu dengannya.
Berusaha bangun pagi agar tidak
terlambat ataupun melewatkan
kehadirannya. Memilih berdesak-
desakan di bus daripada diantar
dengan motor. Selalu datang
tepat waktu , agar bisa melihat
sosoknya dari awal hingga akhir.
Semua hanya karena angin itu.
Angin yang tak pernah mampu
kujangkau, karena ia terus
berhembus. Mengalir secara cepat
bagaikan kilat. Padahal ia
hanyalah angin.

Seolah mataku tak pernah bisa lepas darinya, berbagai pertanyaan selalu muncul
beriringan dengan sosoknya. Siapa
namanya? Dari mana ia? Bisakah
aku mengenalnya lebih jauh?
Segala pertanyaan yang
berhubungan dengannya melekat
erat. Membuat rasa penasaranku
semakin menguar dan terhembus
kemana-mana.

Aku hanya tahu dia murid dari
SMA Harapan – tak lebih. Itu pun
karena seragam identitas yang
dipakainya. Aku tak pernah
berani mendekat, atau menggeser
jangkah kakiku hanya untuk
melihat nama yang terjahit di
bajunya.

Aku hanyalah pemujanya yang
menghabiskan berwaktu-waktu
demi mempertahankan masa
untuk dapat melihatnya. Kalian
pikir itu sia-sia? Tidak juga –
bahkan mungkin memang tidak.
Karena dengan melihatnya,
bebanku yang bertumpuk bisa
hilang.
Tuhan, izinkanlah aku, untuk
mengucapkan selamat pagi
kepadanya. Sekali saja. Agar dia
mengenangku sebagai teman
penanti bus di kala pagi hari.
Aku jadi berpikir, apakah ia
peduli dan memberikan respon
terhadap kehadiranku? Atau
jangan-jangan ia malah tidak
pernah tahu bahwa aku selalu di
sini untuk menemaninya di pagi
hari.

Ah, ia terlalu suka bergaul dengan
bukunya. Bukan dengan sesamanya. Atau setidaknya, kami
berdua bisa mengobrol banyak di
sini.
Dan sebuah persegi panjang
bermesin dengan lapisan baja
yang beroda pun berhenti tepat di
depan kami. Menghentikan
dimensi-dimensi yang telah
terjalin sedemikian rupa.
Melepaskan momentum yang
menimbulkan aksi dan reaksi
yang tidak diharapkan.
Kehadiran bus itu menghancurkan
segalanya, mengakhiri kisahku di
pagi ini bersama dia. Akankah
ada esok pagi untuk melihatnya
kembali?

***

Jika aku harus bercerita tentang
cinta pertama. Maka, aku akan
menjawab, "Ya, mungkin dia
memang cinta pertamaku."
Padahal dalam pernyataanku ini,
aku belum tentu tahu apa itu
cinta beserta maknanya. Aku
mengenal cinta, tapi aku belum
tentu benar-benar memahaminya.
Tapi, setidaknya, aku memiliki
cinta. Di mana aku bisa mencintai
seseorang yang aku pikir - ya, dia
memang pantas untuk dicintai.
Karena semua orang memang
punya hak paten dalam hal ini.

“Bagaimana dengan misi selamat
pagi-mu itu?” tanya Asri memulai
pembicaraan. Aku hanya
merespon dengan gelengan pelan.
“Gagal lagi?”
“Ya, entah yang sudah keberapa
kali,” jawabku sambil menghela
napas pelan-pelan.

Ayolah, Marry, kamu adalah
perempuan dan dia laki-laki.
Apakah aku benar-benar seberani
itu untuk mengucapkan selamat
pagi kepadanya? Apakah aku
benar-benar punya nyali untuk
memulai segalanya. Di mana-mana laki-laki-lah yang seharusnya
menjejakkan kakinya duluan.
Seperti Adam, yang terlebih
dahulu ada ketimbang Hawa.
Masa aku yang harus mencoba
memulainya. Toh, lagipula ia
belum tentu memberikan respon.
Aku malah terlihat agresif dalam
posisi ini.

Biarlah mengalir seperti angin.

Tapi bagaimana jika ia tersendat?
“Kamu pasti bisa.” ujar Asri
memberi semangat.
Aku pasti bisa? Kupikir tidak, semua ini hanyalah ruang semu yang tidak berbatas.

“Tidak, kurasa tidak.”
Asri menatapku tajam, dia tahu benar bahwa aku punya misi "selamat pagi" untuk anak dari SMA Harapan itu. Tapi, dia tidak
pernah tahu benar, bahwa aku
akan menyerah. Menyerah untuk
meninggalkan misi konyol itu –
misi yang aku perjuangankan
hanya demi sebuah cinta pertama.

“Kenapa? Kamu menyerah?
Secepat itukah?”
“As, dengar aku baik-baik. Kurasa
ini adalah solusi terbaik daripada
aku harus termangu sendirian di
halte. Aku perempuan dan dia
laki-laki. Orang-orang masih
menganggap bahwa perbuatan
yang akan aku lakukan ini tidak
lazim. Hal ini lebih baik
dilakukan oleh pria dulu, daripada
wanita. Lagipula, ini tidak secepat
yang kau pikirkan. Ini lama, dan
ini dua tahun – atau lebih,
mungkin? Jadi kurasa, ini
memang puncak usahaku. Ada hal
yang jauh lebih penting untuk
dilakukan bukan?” ujarku – alibi
untuk memotivasi diri sendiri.

Selebihnya, ada bayang-bayang
yang mengalir indah di dalam
otakku, menelusuri tubuhku sampai ke hati.
Ya, ia ada dalam hatiku. Menjelma
sebagai nadi yang terus berdegub
walau bayang nyatanya tidak ada
di sini.
Asri terdiam untuk beberapa saat
– kemudian menatapku tajam.

“Pertama adalah pertama. Tidak
sama dengan yang kedua maupun
yang ketiga. Dan yang pertama,
tidak akan pernah terjadi untuk
kedua kalinya, begitu pula angka-
angka urutan yang lain. Simak
baik-baik, Marry, segalanya tidak
terjadi dua kali. Pertama adalah
pertama.”
Dan ucapan Asri terus terngiang-
ngiang dalam benakku, menguar
tajam bersamaan dengan
bayangnya.
Segala tidak terjadi dua kali.
Pertama adalah pertama.

***

“Hai, pagi? Hari ini hari yang
cerah, ya? Tapi sayang bus-nya
tidak kunjung datang. Ngomong-
ngomong kamu naik bus jurusan
apa?”
Tertelan...
Semua sukses tertelan.
Dan lagi-lagi aku tak sanggup
mengatakannya. Lidahku kelu,
dan bibirku terekat erat satu
sama lain. Tidak ada yang bisa
kusuarakan di sini.
Suasana halte tampak sepi karena
waktu baru bergulir ke angka
setengah tujuh, membuat orang-
orang masih enggan untuk
menguarkan aura semangatnya
untuk keluar dari rumah.
Beda denganku, yang masih punya
misi. Sebuah misi konyol yang aku
pun masih belum mengerti –
mengapa aku melakukannya.
Semuanya di luar nalar, semuanya
diluar kontrol logika. Karena yang
berjalan adalah perasaan, tentu
emosi yang mewakilinya.
Terkadang, aku merasa sangat
konyol. Ini tidak masuk akal!
Menjadi pemuja rahasia di kala
matahari masih enggan untuk
bersinar. Menjadi seorang stalker
sejati di pagi hari. Mencuri-curi
gerak-geriknya ketika bayangan di
tanah memanjang dan membelakangiku.

Mengapa aku dengan tega
menghabiskan setiap pagi hanya
untuk memujanya. Memuja cinta
urutan kesatu. Padahal, belum
tentu menjadi yang terakhir.
Harusnya aku ingat, pernyataan
apa yang jadi pondasi keruntuhan
ini. Bukankah ia belum tentu
memperhatikanku seperti aku
memperhatikannya. Bukankah ia
belum tentu peduli padaku,
seperti aku peduli pada gerak-
geriknya. Bahkan mungkin, ia belum tentu tahu bahwa aku ada
di sini.

Karenanya, beranikan untuk
menyapanya. Buat kesan bahwa
kau ada. Jangan biarkan angin
berhembus dan menggoyangkanmu begitu saja. Tunjukkanlah bahwa keberadaanmu yang ibarat rumput, meyakinkan angin yang kasatvmata, bahwa ia ada. Dan jangan biarkan ia berhembus begitu saja.
Jangan biarkan ia melaluimu tanpa
tahu, bahwa kamulah yang
memberi warna pada
keberadaannya. Jangan.

Sebuah suara berbisik.
Memberikan sebuah tombak
semangat yang memberanikanku.
“Apa kabar? Bagaimana kabarmu?”
Tidak ada jawaban. Karena semua
kalimat itu lagi-lagi tertelan
Aku rumput di pagi hari yang
pengecut. Lebih pengecut dari
bakteri sekali pun.
Tuhan, mengapa sulit sekali untuk
memberi salam selamat pagi
untuknya.
Aku masih berkutat dengan angin
pagi yang menyesakkan. Angin
pagi yang menyumbat otakku
untuk berpikir sampai akhirnya
ada sebuah suara yang
memanggilku – entah yang
keberapa kali. Yang jelas, aku
sedang terjun bebas ke dalam
alam bawah sadarku.

“Permisi, mau tanya.”

Bayang-bayang itu kembali
berdegub di dalam nadiku. Tiba-
tiba auranya menguar ke segala
penjuru. Entah itu barat atau
timur. Semua serasa di dalam
kotak dimensi yang mengurungku
dan dia.
Dengan segala keterkejutan yang
ada. Aku berusaha untuk menoleh
kea rah suara itu. Suara angin
pagi. Angin tak pergi begitu saja,
ia peduli pada seonggok rumput
yang sekarat di pagi hari.
“i... Iya?”
Dan benar, memang dia.
Bayanganku tentang dia sukses
sudah! Aku tahu bagaimana dia
secara visual, dan kini aku tahu
benar tentang dia secara audio.
Bagus, angin yang indah.
Dan tentu saja, hari ini aku tidak
perlu mencekik leherku sendiri
karena ia tidak mau berkompromi. Laki-laki itu, malah yang terlebih dahulu bersuara.

“Jam berapa ya? Aku lupa bawa
jam tangan.” dengan gelagapan
aku menarik tanganku dan
mencoba mengecek pukul berapa
sekarang. Aku tak habis pikir, apa
yang aku idam-idamkan selama
dua tahun terakhir akhirnya
terjadi.
Dia berbicara padaku. Dia sedang
berbicara padaku. Padaku! Aku!
Aku bukan rumput yang
terlupakan! Dia telah meraih
anganku!

“Jam setengah tujuh lebih lima." jawabku, sebisa mungkin kulancarkan agar tidak
menimbulkan spekulasi yang
tidak-tidak pada benaknya.
Tapi, aku heran, mengapa ia tidak
melihat jam di ponselnya. Atau
jangan-jangan, ia memang punya
tujuan terselebung.
Aku berharap yang tidak-tidak.
Segalanya tampak terancang
indah. Jika akulah sang
Penghendak maka pasti akan
lebih indah lagi dari ini.
Sayangnya, aku bukan Dia. Dia
yang begitu Agung menciptakan
takdir. Sedang aku, malah
menyebutnya kebetulan karena
aku tak percaya kenyataan pahit.
Aku menganggapnya sebagai ilusi.
Padahal, Tuhan, pasti
menciptakan rancangan waktu
yang lebih indah daripada yang
aku pikirkan.
“Oh, makasih,” jawabnya –
tersenyum. Lagi-lagi, bayanganku
tentang dirinya semakin
sempurna. Aku kini melihat
senyumnya. Sebuah simbol yang
mendekatkan jarak antar dua
manusia. Itulah senyum, itulah
fungsi senyum yang sebenarnya.

“Kamu naik bus jurusan apa?”
Aku tergagap. Ini pertanyaan
yang tadi tersimpan erat dalam
benakku. Dan kini, ialah yang
dengan sukarela menanyakannya.
Haruskah aku menjawab, “Kau
tahu, aku ingin menanyakan hal
ini terlebih dahulu untukmu."

“Aku naik bus jurusan Samirana,”
“SMA Garuda?” tebaknya. Aku
hanya mengangguk malu.
Bagaimana bisa pembicaraan ini
mengalir begitu saja. Aku ingin,
pembicaraan ini akan terus
mengalir. Seperti angin yang tak
pernah berhenti berhembus. Tapi,
aku ingin angin tahu, bahwa ia
meninggalkan jejaknya padaku.
“Kalau kamu?” aku mencoba balik
pertanya, berharap akan timbul
pertanyaan-pertanyaan berikunya.
“Aku naik bus jurusan Braja. Mau
ke SMA Harpan.” ujarnya sambil
lagi-lagi – tersenyum.

Pembicaraan terus berlanjut.
Kami berbicara tentang hal-hal
sederhana sampai yang rumit.
Dari yang tidak terpikirkan
sampai yang menjadi beban.
Segalanya kami saling bercerita
Saling memberi informasi.
Aku harap ini tak berakhir pagi
ini. Aku harap ini tak berakhir
hari ini saja. Masih ada hari esok
untuk saling bertukar sapa dan
bercerita. Aku harap tak akan
berakhir.

Tiiinnnn....!!!!

Suara klakson tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku
berada di luar trotoar, mendekati
tempat pemberhentian bus. Dan
semua bus telah geram dengan
keberadaanku yang tidak tepat.
Aku segera berjalan mundur
sambil menunduk – malu.
Dan tiba-tiba semua terlihat
begitu nyata dengan eksata-eksata
yang ada. Ekspektasiku hancur
sudah. Lebur dalam hembusan
angin yang mengalir entah kemna
Ternyata semua hanyalah semu.
Tidak ada yang benar. Semua
hanya berada dalam pikiranku.
Beradu dalam ilusi yang aku pikir
– itu pasti nyata.

Tapi ternyata tidak ada
perkacapan sistematis yang
terjadi, semua hanyalah ilusiku –
yang sering kukatakan kebetulan.
Makanya aku menyebutnya
kebetulan – karena akulah yang
membuatnya dalam alam pikirku.
Bukan takdir – yang nyata Tuhan
ciptakan.
Karena takdir Tuhan tak bisa
kuprediksi. Aku hanya bisa
berekspektasi sampai segalanya
menjadi doa-doa – semoga
menjadi kenyataan. Sampai
akhirnya, aku tak bisa
membedakan mana yang nyata
dan mana yang semu.

Kulihat, laki-laki itu telah
bergegas masuk ke dalam bus.
Bus jurusan Bantala, dan bukan
bus jurusan Samirana seperti apa
yang ada di dalam ilusi.
Semua tiba-tiba terhempas, dan
hempasannya terhembus oleh
angin. Aku ilusi, aku hanyalah
ilusi pagi yang memuja-muja
emosi terindah pertama yang tak
kunjung mendekat.
Semua terhempas, terinjak oleh
roda-roda mesin berbaja yang
melaju dengan kecepatan tinggi.
Angin meninggalkan rumput yang
telah terporak-porandakan. Tidak
ada yang nyata. Dan klakson-
klakson hina itu telah
menghancurkan khayalanku.
Aku menatap laki-laki itu. Laki-
laki yang ingin aku sapa setiap
pagi. Tapi ternaya, aku tidak
punya keberanian untuk bertukar
sapa dengannya.

Sampai akhirnya kami tidak
pernah bertemu lagi di halte, aku
belum juga bisa mengucapkan
selamat pagi kepadanya. Entah di
mana ia sekarang. Kelu dan sesal
masih tertinggal.
Misiku yang telah terpendam
bertahun-tahun, akhirnya
kunyatakan gagal. Pertama adalah
pertama, dan tak akan
tergantikan.
Walaupun aku tak pernah mampu
dan aku tak pernah berani
mengucapkan selamat pagi
kepada-nya. Tapi rutinitas setiap
pagi itu akan terus kukenang.
Sebuah perjuangan konyol untuk
melihat sosoknya di pagi hari
Sosok yang telah terhormat
menjadi bagian dari kisah
romanku. Dialah yang jadi awal.
Yang jadi cinta pertama sebagai
angin yang tak pernah melihat
sejumput rumput.

Mungkin, esok – entah berapa
lama masa yang akan terlewatkan.
Aku mulai berekspektasi (lagi) –
bahwa aku akan bertemu dengannya lagi. Dan pada hari di
mana aku akan bertemu dengannya, lidahku tiada kelu lagi, bibirku tiada rekat lagi. Dan aku akan sanggup mengatakan. "Selamat Pagi Angin..."

Thursday, August 14, 2014

Penantian, Hujan, dan Pelangi.

Dalam sepotong sore di bawah
gelitikan hujan yang menyerbu, tawa tercipta di tengah gemuruh nada hujan yang sendu. Menunggu berhenti hujan, menghentikan dingin yang menyerbu dengan senyum hangatmu yang kunikmati adanya.
Kau bercerita, seolah hanya aku dan kamu yang akan tau apa maknanya. Kau menghadirkan kisah-kisah yang kau ceritakan padaku setelah hujan berlalu. Kau ceritakan, diam-diam kau taruh harapan di setiap hujan datang, agar setelah hujan hilang, harapanmu datang dengan sebuah
pelangi yang begitu indah...
Aku juga ingin seperti itu, menaruh harap pada hujan yang mencipta pelangi yang indah, seperti kini, aku menaruh harap setelah ketidak jelasan ini, kau akan ceritakan kejelasan indah akan apa yang namanya cinta, dan kejelasan akan kata bahwa “Cinta tak arus saling memiliki...”

“Sampai kapan kamu akan
menunggu hujan?” Tanyaku.
“Aku tidak tau.”
“Kenapa kamu suka hujan?”
“Nada titik hujan di atas atap terasa seperti seruling alam yang
mengantar dalam tidur panjang.
Melodi hidup, aku menyebutnya
seperti itu. Saat semua ketenangan bisa kudapatkan tanpa harus memikirkan apa pun.” Jelasnya panjang lebar.
Aku hanya diam. Tak lama Bayu
bertanya padaku.

“Apa kau suka hujan?”
“Tidak.” Kataku sambil berdiri
menatap rintik hujan yang belum
reda.
“Kenapa?”
“Aku tidak suka hujan, hanya saja
aku suka pelangi.”
“Tapi, kau harus menikmati hujan
sebelum menemukan pelangi.” Katanya.
“Aku tidak mau.”
“Lalu untuk apa kamu disini?”

Sejenak aku diam, memikirkan
jawaban yang kian sangat berat
kuucapkan, beberapa detik dalam
keheningan, aku menjawab...

“Untuk mu...”
Ia memelukku dengan eratnya. Tawa kami terlepas disana. Namun tetap sesak masih menyergap. Percakapan kami tak berakhir disana.
Kuambilkan secangkir teh hangat
untuk kami.

“Aku paling suka teh buatanmu.”
Bayu berkata.
“Apa bedanya memang? Ayolah
sudah kamu tidak usah berkata
seperti itu!”
“Memang benar, di dalamnya ada
beribu kemanisan cinta kan?” Katanya sambil tersenyum.
“Kamu berani berkata cinta? Ah
gombal!” Timpal ku.
“Kamu kan wanita yang selalu ada
saat keadaan apapun aku, bukan?”
Dia tersenyum, sembari merangkulku. Aku pun tertawa
bersamanya. Entahlah, ini benar
atau salah, tapi Bayu memang selalu seperti itu. Kami selalu seolah berkata tentang cinta, menghabiskan waktu bersama, namun tak selalu...
Ada kalanya, Bayu menggenggam
jemari kekasihnya, Hanny, sahabat
baikku.

Aku dan Bayu berteman sejak kecil, suatu hari ku kenalkan ia dengan Hanny yang juga sahabatku. Dan kini mereka adalah sepasang kekasih.
Bayu sangat mencintai Hanny,
begitupun sebaliknya.

Aku mencintai Bayu? Atau sebaliknya???

Bagaimana cinta sebenarnya? Mungkinkah cinta Bayu terbagi, sedang ia hanya punya satu hati.

“Heh Bill!”
Aku terbangun dari lamunanku.

“Eh iya!??”
“Kamu melamun?”
“Tidak.”
"I love you Billa, itu cukup enak
untukmu?”
Love you too.”

Tawa kami memecah hujan yang
masih lebat. Entah tawa pertanda
apa. Kami selalu mengumbar kata
cinta, namun, kosong, tak berisi
apapun disana.

Tak lama, suara handphone Bayu
memecah tawa. Terlihat satu panggilan masuk dari Hanny Mustika, Bayu langsung menjawabnya.

“Hallo sayang...”
“Eh ada apa?” Tanya Bayu.
“Besok pagi kita jadi bertemu?”
Sebelum menjawab pertanyaan
Hanny, Bayu menatapku, dan aku
menyuruhnya meng-iyakan ajakan
Hanny.

“Iya sayang..”
“Aku tunggu di taman jam 8 ya
sayang”
“Iya, I love You Hon...
Love you more, Bay...”

Bayu menutup telfonnya dan
menatap kepadaku.

“Mengapa wajahmu seperti itu?” Tanyanya.
“Tidak.”
“Kamu cemburukan? Tenang, aku cuma sayang sama kamu kok Bill”
“Ah kamu.”
“Aku pulang ya Bill? hari sudah
petang”
“Boleh aku meminta sesuatu?”
“Apapun Bil.”
“Aku tidak mau sendiri.”

Bayu hanya tersenyum, ia mengerti maksudku. Aku tak ingin ia pulang.
Aku ingin ia menemaniku sampai
aku terlelap. Entah mengapa, tapi
aku sangat percaya, ia tak akan
berbuat apapun kepadaku. Aku
tertidur dalam dekapnya malam itu.
Dalam lelap, aku masih bisa
mendengar suaranya dan kecupan
dia di keningku.

“Selamat tidur bidadari cantik, I Love You...”

Kala terbangun, Bayu sudah tak
ada dalam mendekapku. Aku
mencarinya, ia sudah rapi, dan wangi kala itu.

“Baru bangun Non?”
“Kenapa kamu tak membangunkan
aku?”
“Kamu tertidur sangat pulas.”

Aku membuka jendela..
“Hujan belum berhenti Bay? Kamu
tetap mau pergi?”
“Iya.. Hanny pasti menungguku.”

Aku...? ah... sesak itu menyergap, ya aku cemburu... Tapi, aku sadar di sisi lain aku berdosa, mengkhianati sahabatku sendiri.

“Billa... cepat mandi!”
“Bay, apa aku bersalah?”
“Bersalah apa maksudmu?”
“Kau kekasih sahabatku sendiri, tapi aku…”

Bayu memotong ucapanku.
“Ssst.. bicara apa kau ini? Ayo cepat mandi!”
Sambil tersenyum aku tetap merasa berdosa.
Aku akhirnya bersiap untuk
mengantar Bayu menemui Hanny
diam-diam tanpa Hanny tahu.

Kami berangkat, hujan masih lebat dari semalam, dalam perjalanan, aku berkata.

“Hujan tak juga reda.”
“Ya... ini suasana paling indah.” katanya.
“Apa ini berarti tak akan ada pelangi? atau aku harus menunggu
lebih lama lagi?”
“Haha kamu lucu Bill. Aku tak akan
membiarkan kamu menunggu lebih lama lagi.”

Dia mengusap kepalaku. Aku benci
menunggunya, seperti menunggu
sebuah pelangi yang tak kunjung
datang.

“Sudah sampai Bill, apa aku harus
kesana menemuinya?” Tanyanya
ragu.
“Kamu mencintainya bukan?”
“Kamu tidak cemburu?”
Aku hanya tersenyum. Dan aku harus menunggu, lagi.

Bayu keluar membawa payung,
disana terlihat Hanny yang sudah
basah kuyup menunggu Bayu.
Mereka berbincang dalam hujan, ku lihat Bayu mengeluarkan sesuatu, sebuah cincin. Ia melamar Hanny.

Aku teriris. Aku berfikir untuk apa
aku disini? Untuk Bayu? Untuk
kekasih milik orang lain? Aku
menulis sepucuk surat untuknya.

Aku merasa, tak akan kutemukan pelangi dalam hujan kali ini. Aku tak mengerti dengan cinta. Terutama cinta yang selalu terucap oleh mulutmu namun hampa. Aku bingung menafsirkannya.
Bagaimana jika benar aku mencintaimu??? Namun kamu bersamanya??? Aku akan pergi.
Dalam hujan ada nada sendu untuk ku kenang kamu. Dalam hujan berbisik senandung liar 1001 cerita tawa tentangmu. Dalam hujan, kuselipkan harapan, seperti kamu... Berharap pelangi datang dan aku berhenti menunggu...
I Will Miss You Bayu...

Aku pergi. Entah kemana. Mungkin
menunggu. Ke tempat yang tak akan Bayu temukan. Setelah pernikahan mereka, mungkin aku baru akan pulang.

Di tengah perjalanan, aku tak bisa melihat jelas karena hujan. Dari belakang, ternyata sebuah mobil menabrak seluruh ragaku dari belakang. Entah apa yg aku rasa setelah itu.

Aku bangun, masih di tempat tadi,
tak kurasakan sakit sedikit pun.
Ragaku masih utuh seperti tadi.
Hujan sudah reda, kulihat sebuah
pelangi indah di depan mataku.
Indah sekali. Aku sudah lama
menunggu. Aku ingin mencari Bayu, berteriak membagi tawa, ada pelangi kini.

Kulihat Bayu masuk ke apartemen
ku. Aku mengikutinya. Aku
memanggilnya, namun ia tak
menjawabku. Aku menemukannya di kamarku. Wajahnya sendu, entah apa yang terjadi.

“Bayu... lihat!!! hujan sudah reda,
pelangi Bay pelangi...”

Ia seakan tak mendengarku, ia hanya melihat sekeliling kamarku dengan wajah penuh sesal.
”Bayu... Jawab aku Bay...!!! Ayo kita
lihat pelangi!”

Ia tak menghiraukan aku, aku pun
pergi ke dapur untuk melihat
keadaan disana. Tapi tak ada yang
terjadi. Kulihat Bayu pergi keluar,
aku pun menyusulnya dan berteriak.

“Lihat Bay itu pelangi!"
Tapi Bayu hanya berjalan, entah
kemana. Aku mengikutinya dari
belakang. Ia pergi ke sebuah
pemakaman, membawa setangkai
bunga mawar. Sebuah nisan yang
tanahnya masih merah, masih
bertabur bunga segar, seperti baru
kemarin. Ku dekati, ku coba bertanya padanya.
“Bayu?”
Ia menoleh kali ini. Namun bukan
kepadaku. Ia hanya menganggap
suaraku angin berhembus kala itu.
Kudekati ia lagi, namun Bayu pergi. Aku penasaran, siapa makam itu?
Aku semakin dekat dan membaca
nama yang ada di nisan itu. Aku
tersentak, aku tak percaya dengan
apa yang aku baca. Namaku!!?
Namaku yang terukir disana. Sontak bola mataku teriris. Hujan kembali turun. Aku berlari menyusul Bayu, dan disana ada Hanny serta kedua orangtuaku.

“Mah? Pah? Hanny? Kalian bisa
mendengarku bukan?”

Aku menangis, kucoba memeluk
mereka namun ragaku menembus
mereka. Kudengar Bayu bercerita.

“Bu, maaf Bayu tidak bisa menjaga
Billa dengan baik”
“Ini takdir Bay.”
“Sebenarnya apa yang terjadi Bay?
apa???” Hanny bertanya
“Kemarin saat kita bertemu di
taman, sebenarnya Billa ada di
dalam mobil, tetapi ia pergi dan
meninggalkan sepucuk surat ini!”

Hanny membaca surat itu lalu
menangis.

“Aku jahat Bay... seharusnya aku tau Billa mencintaimu."
“Ia pergi, dan sebuah mobil
menabraknya karena kemarin hujan lebat. Pulanglah Hanny!”

Bayu kembali ke makam yang
bertuliskan namaku. Ia membawa
sepucuk surat, lalu pergi.

Kini kutemukan lengkung senyummu dalam warna indah pelangi. Kau tak perlu menunggu Bill, karena aku selalu disini. Cinta... Jika kau bertanya, kau kan tahu jawabnya. Itu aku dan kamu maka akan jadi kita...
Bidadari cantik... Kini aku yang akan menunggu. Bertemu bersamamu dalam keabadian. Tanpa batas waktu.
Dalam hujan, disana ada 1001 cerita, tawa kenangan aku dan kamu. Kau nada sendu hujan yang tak hentinya aku dengar...
Love You More Billa...
Bayu...

Ku baca, ku kenang... Kudengar nada rindu dalam hujan... Sepotong senja yang berulang kali kunikmati bersamamu. Kini aku tau pelangiku tak pernah jauh dariku. Itu kamu.

Aku selalu punya pelangi dalam
setiap peluhku. Aku sudah
menunggu. Dan kini kamu yang
menunggu. Kita harus saling
menanti untuk saling menggenggam jemari. Aku ingin menikmati sepotong senja bersama bau tanah basah sepeninggal hujan bersama
kamu, Seperti kanvas putih yang
terwarna homogen indah... Bayu...

:'( :'( :'(