Saturday, February 22, 2014

Aku, Kamu, dan Akustik


Barithon Cafe'
Bila tak cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Ijikan aku tetap menyayangimu...
Jreeeng.....

Dawai sang akustik mendengung merdu bersanding dengan lagu "Ijinkan Aku Menyayangimu" yang di populerkan oleh sang legendaris Iwan Fals.
Itu adalah petikan terakhir dari gitar akustik yang kumainkan pada parade musik solo malam di Barithon Cafe.

Akhir dari lagu sendu yang seolah
mewakili suasana hatiku pada
beberapa minggu ini.
Desiran ombak hati yang beraroma usang kini menjadi selimut tetap dalam putaran waktu yang menyelingi irama nadi.
Cinta tak lagi berpihak dan akustik adalah sebuah pelipur yang terpilih guna menyembunyikan luka yang menggandengku erat.
Terhitung satu bulan lagi. Ya... Satu bulan lagi akan menjadi hari tergelap dalam hidupku yang teramat kucintai ini.
Wanita yang begitu dekat dan
melekat di hati akan terpinang dan
segera membangun indahnya canda tawa sebuah keluarga dengan seseorang di luar sana. Bukan denganku dan pasti tanpaku.
Cinta tak pernah mengerti bagaimana rasa akan tumbuh dan
dengan cara apa ia bisa menjelma
menjadi suatu kata yang begitu
berharga dalam lentera teduh yang di sebut "sayang". Ya, cinta juga tak pernah mengerti kepada siapa ia akan menjatuhkan hati tentang rintihan lembut yang memanggil atas dasar ketulusan untuk memiliki.
Cinta dalam hati adalah satu dari
sejuta kemungkinan yang bermakna nyata.
Hening...

Semula seusainya tampil di kafe ini, hanya ku pejamkan mata sejenak.
Lalu ku coba memimpikannya dalam gelap, memikirkannya dalam rindu, dan menariknya agar tak menjauh.
Ku bayangkan indah matanya,
lembut katanya dan wangi parfume-nya yang khas.
Itu adalah kenikmatan yang
hanya bisa kudapati pada dirinya,
wanita penghuni relung kosong ini,
dia sahabatku.
Masih ku memimpikannya dalam
pejaman mata yang dangkal,
sebelum akhirnya para pengunjung kafe ini membangunkanku dengan
tepuk tangannya yang riuh
membanjiri gendang telingaku.

“Dion...” Teriakan suara wanita
memanggil namaku. Itu bukan suara asing, aku mengenalnya.
Dengan cepat aku menoleh antusias pada seluruh pengunjung kafe.
Masih kucari dari mana panggilan
itu berasal sebelum akhirnya muncul dengan anggunnya seorang wanita yang aku maksud.
Dia... Dia yang aku filosofikan sebagai kata yang kurajut menjadi puisi. Puisi yang mengalbum dalam bingkai terbaik di sudut terindah taman cintaku.
Dia yang tinggal di jagad hatiku dengan sejuta keindahannya, yang membuatku senantiasa bersyukur atas nama cinta.

Therresia Kharismana namanya, atau ku sebut dia Terre.
Terre adalah wanita dengan senyum renyah dan selalu membawa gitar akustik kesayangannya, sama
sepertiku. Terre dan aku adalah
sesama pemain akustik.
Lima tahun sudah persahabatan ini terbangun atas nama rasa. Maka lima tahun pula aku hanya bisa bernyanyi lewat akustik dan berpuisi tentangnya, tanpa berani mengungkap isi hatiku yang sebenarnya.
Betapa pengecutnya aku sehingga hati ini kupaksakan menunggu. Selama itu hati menahan dan lambat laun semakin sesak lalu merintih.
Apalagi ketika tempo hari ku dapati sebuah cincin indah melingkar di jari manisnya tanda terjadinya sebuah ikatan. Sekali lagi bukan denganku.

“Terre...” Heranku padanya seraya
berjalan turun dari panggung
dengan masih diiringi riuhnya tepuk tangan.
“Bisa kita jalan?” Pinta Terre lembut padaku.
“Kemana? tapi kan…”.
“Kita berangkat sekarang” Sahut Terre memotong ucapanku.
Aku hanya bisa beranjak dan segera menuruti pintanya. Seperti ada sesuatu yang aneh ketika
kuperhatikan mimik wajah dan
caranya berbicara.
Terre yang biasanya berhiaskan senyum renyah tak ku dapati malam ini. Kilau rambutnya juga tak seperti yang biasa aku nikmati.
Terre... ada apa denganmu malam ini?

Di kedai kopi klasik
Sudah 30 menit lamanya aku dan
dirinya tiba di kedai kopi langganan kami, tapi ia tak kunjung
mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut manisnya. Justru air matanya-lah yang gemulai menyapaku menemani tubuh yang perlahan mulai menggigil.
“Kamu kenapa Re?” Tanyaku
khawatir padanya.
Aku mulai terkejut ketika dengan
sekejap Terre mendekap lenganku
penuh arti. Ini bukan sembarang
dekapan. Aku merasa luluh. Pada
satu definisi aku menerimanya
sebagai dekapan yang membawaku
pada gelora cinta yang membuatku
bersyukur atas nama waktu. Waktu
telah memberiku jeda riang dengan dekapan yang hadir dari sang hawa bernama Terre. Terima kasih cinta.
Tak lama, lantas ia membaringkan
kepalanya pada bahu yang selalu
siap menerimanya ini. Kemudian
mulai ia mengungkap sesuatu
dengan diiringi angin lembut yang
memberikan sebuah tema haru
seraya menyongsong penjelasannya padaku.

“Coba lihat ini!” Ujarnya sembari
memberiku secarik kertas undangan pernikahan.
“Undangan? kamu kan udah pernah ngasih ke aku, kenapa masih ngasih lagi?”. Aku bertanya padanya dengan masih dinaungi ketidak percayaan bahwa ia benar-benar akan menikah.

“Iya memang, tapi aku hanya ingin
kamu tau kalau sahabatmu ini
benar-benar akan menikah”. Jawab
Terre penuh perasaan.
“Ehmm, iya aku tau, semoga kamu
bahagia dengan pilihanmu”. Ujarku
berusaha tegar di hadapannya.

“Tapi persahabatan kita? gitar
akustik? kafe itu?”

“Tentu kita tetap bersahabat, kita
juga masih bisa berakustik di kafe
biasa kita kumpul, memang kenapa?”
Sejenak aku dan dia bisu dalam
hening. Air mata Terre terus berbicara lirih mengalir menghiasi
pipinya. Suasana semakin sendu
ketika kuperhatikan kedai kopi ini
ternyata perlahan mulai sepi.

“Terre?” Tanyaku semakin heran
padanya.

“Terima kasih untuk 5 tahun ini, aku beruntung bertemu seorang pemain akustik sepertimu Ion. Aku bisa nikmati bagaimana kebersamaan kita selama 5 tahun ini. Bulan depan aku bakal terpinang dan segera beranjak dari kota ini”. Tandas
Terre dengan derai air matanya
yang semakin menjadi.

“Maksud kamu? kamu pergi? kenapa Re?”

 “Iya, aku pergi setelah pernikahanku nanti.”
Tapi, Re…”

“Malam ini aku cuma mau balikin
buku ini”. Tiba-tiba Terre memotong ucapanku dan memberiku sebuah buku yang sepertinya aku kenali.
Benar. Buku itu adalah tempatku
menuang kata menjadi puisi
tentangnya, tentang Terre. Buku itu adalah pelarian dari suasana hati dan sejuta kekagumanku padanya.
Aku menyebutnya lembaran hati,
bukan buku diary. Lantas bagaimana buku itu bisa berada di tangan Sang Dewi?

“Buku itu? kenapa bisa ada di kamu, Re?”. Aku panik dan berusaha menyembunyikan rasa yang tiba-tiba menjadi tak karuan.
Timbul rasa khawatir pada benakku, khawatir akan mengacaukan persiapannya
untuk menikah.

“Aku temuin buku itu di kafe tempat kita biasa manggung Ion. Aku udah tau semua isi buku itu” Ucap Terre sesenggukan.

“Jadi? kamu...?"

“Iya Ion, aku udah tau tentang
perasaan kamu ke aku selama ini”.

“Maafin aku Re. Aku nggak bermaksud menodai persahabatan
kita. Rasa ini mengalir begitu saja
dan aku nggak pernah bisa nolak
anugrah cinta yang Tuhan berikan. 5 tahun aku nyimpen ini semua
karena emang aku nggak ada
keberanian buat bilang ke kamu
tentang perasaan aku. Aku khawatir persahabatan kita hancur dan kamu ngehindar kalau seandainya kamu nggak bisa nerima aku. Aku terpaksa
diam, sekali lagi maafin aku Re”

“Bodoh!”. Kilah Terre padaku.
“Maafin aku, Re."
“Kenapa kamu nggak pernah coba,
Ion? kenapa kamu nggak perjuangkan apa yang seharusnya
kamu dapetin?”.
“Aku khawatir, Re!”. Seruku padanya.
“Khawatir apa?”. Terre membalasku.
Sejenak terjadilah perang argumen antara aku dengannya. Perlahan nadiku melemah menyaksikan isak tangis Terre yang tak kunjung mereda. Sampai akhirnya aku tega melanjutkannya.
“Aku khawatir kamu nggak bisa
nerima aku dengan segala
kekurangan aku. Pikirku kamu nggak bisa nerima cinta dari seorangbpemain akustik seperti aku. Tapi cuman satu yang jelas, atas nama cinta, aku sayang kamu, Re”
“Sebenarnya ada satu hal yang perlu kamu tau, Ion”
“Apa?”

“Tentang kita, cinta yang ternyata
bersembunyi di balik keraguan kita. Tentang rasa yang selama ini
ternyata sama. Sebenarnya selama
ini aku juga punya perasaan yang
sama sepertimu. Tanpa kamu sadari aku selalu memberimu ruang untuk masuk dan mencoba mengatakan semuanya. Aku selalu menunggumu untuk satu hal itu, tapi kamu terlalu lama dan ragu Ion."

“Terre?”

“Aku wanita, nggak mungkin aku
memulai. Kalau saja seandainya
kamu lebih cepat dan tak pengecut, mungkin cincin orang lain ini nggak akan terpasang di sini”. Ujar Terre seraya memperlihatkan cincin
tunangannya.
“Maafin aku, Re.” Mataku mulai
berkaca-kaca.
“Aku sayang sama kamu Ion, tapi
apa daya aku. Satu bulan lagi aku
akan menikah dengan pasanganku,
orang yang telah berusaha buat
dapetin hati ini. Maafin aku Ion”.
Aku hanya membalasnya dengan
diam dalam kondisi batin yang
tersayat-sayat saat kembali mendengar dia benar-benar akan
menikah.

“Terima kasih untuk puisi-puisi
indah itu, cinta!" Curahnya padaku.
Dengan segala isi hati, Terre
mencium keningku penuh rasa, lalu ia pergi tanpa berkata-kata lagi.
Sekali lagi bibirku kaku ingin
membisu. Hanya kata hati yang
bertutur riuh dengan segala
penyesalan pada saat
menyaksikannya melangkah pergi.
Saat itu pula aku seperti selembar
daun yang terombang-ambing di
tengah kuatnya samudera. Bagaikan debu haram yang tercecer kasar pada sudut nurani. Menyedihkan.

“SELAMAT JALAN CINTA!”. Ujarku
membatin padanya.
Kini Terre telah memudar dari
pandangan. Derap langkahnya mulai semu terbawa keheningan.
Akustik yang kubawa menjadi saksi bisu pada momen yang begitu pilu ini. Hanya kalimat terakhirnya tadi yang
membuatku terpaksa mengenangnya dalam perih. Dia menyebutku "Cinta".
Walau pada nyatanya bukan aku
yang bersanding dengannya kelak.
Sekali lagi, dia benar-benar akan
menikah.
Ini Cinta. Tak selamanya berkata
‘mampu’. Hanya keberanian dan
sedikit keberuntungan yang akan
membawanya pada jalan indah
penuh pelangi yang disebut
romansa.
 
Akustik telah menjadikanku sebagai manusia yang
bisa bersyukur dengan segala bentuk cinta terhadap makhluk ciptaan-Nya. Lewat lagu dan puisi yang tercipta.
Enam dawai akustik telah berpesan
bahwa maksud hati kadang kala
menjadi salah karena jauh dari
sempurna.
Selamat menikah Terre. Gapailah
indah cahaya pada manisnya sebuah bina keluarga. Terima kasih Tuhan.

Dari hati, atas nama AKUSTIK dan
meriahnya CINTA.

0 comments:

Post a Comment