Thursday, February 27, 2014

Cerita di Balik Senja

Tepat waktu. Sesampainya, aku langsung menaiki anak tangga yang terpaku di pohon besar, di hadapanku. Segesit mungkin aku mencari posisi ternyaman untukku duduk.

Hanya tinggal seperempat jam lagi, matahari akan turun ke habitatnya. Meng-usaikan pekerjaannya hari ini.
Sedikit-sedikit gundukan awan di langit
sana memerah, menanarkan warna
lembayung senja. Bola mataku merekam
kejadian indah itu. Di saat warna merah
memudar menjadi jingga. Kukeluarkan
sebuah voice recorder.

"Aku mencintai senja, aku mencintaimu. Tak kan ada yang bisa menalarkan untaian kata indah tentangmu. Yang aku tahu, senja itu kamu."
Aku mendengarkan setiap ucapan yang terdengar dari benda mati itu

"Aku juga mencintaimu. Sekarang aku melihat senyummu di lembayung senja itu. Kau pasti bahagia telah bersatu dengan senja itu." Ucapku berbisik, berbicara pada diriku sendiri

Mungkin hanya voice recorder itu yang menjadi pendengar bisu dari curahan hatiku yang ku semburkan.

Aku mendengar percakapan dalam voice
recorder itu. Pilu ketika mendengarnya, air mataku menitik jatuh tanpa diminta.

"Aku nggak mau melepaskanmu, seberapa pun ketidak-sempurnaan aku."
Terdengar lagi suara Riko dari voice recorder

"Jangan bicaea soal itu! Kamu selamanya sempurna. Disini, di hatiku."

"Kamu tahu tidak?  Bibir ini terlalu mudah berbicara. Pernyataan bibir itu tak pernah sesuai dengan kenyataan. Tapi untuk perkataanmu. Aku percaya, dan aku harap kamu jujur.

"Love you..." kataku menyambar.

Mendengar semua percakapan tadi, hatiku tak mampu membendung nestapa.

Dua bulan Riko pergi dari bumi ini, kaki-kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Riko membawa album kenangan yang tak mungkin kembali.

Senyap. Setiap matahari tenggelam, aku selalu hadir di tempat ini. Di
rumah pohon milik Riko. Perlakuanku yang seperti ini terus menerus terjadi, setiap hari. Hanya untuk menepati janjiku pada Riko, untuk selalu menjaga ‘si kecil’ kami. Senja.

Matahari yang warnanya memias, itulah
sosok yang dikagumi Riko. Aku pun tertarik pada hal yang sama dengannya.
Butir air mataku terbingkai di sudut mata.

Riko, satu-satunya alasanku atas lamunan yang setiap detik aku lakukan. Aku selalu melamunkan kehadirannya. Dia membawa kabur kebahagiaanku. Meninggalkan sekotak besar rindu. Aku masih tak tahu sampai kapan akan berhenti menunggu, padahal sebenarnya ia tak akan pernah kembali. Aku
masih belum bosan duduk di rumah pohon
ini, sembari memandangi semburat indah
lembayung senja.

“Ariiin!” teriak seseorang memanggil
namaku. Aku menoleh.
“Rio? Kenapa bisa disini?”
“Ikatan batin, mungkin?”
“Haha… Ayoo, pulaaang”

Aku turun dari rumah pohon segesit
mungkin. Sampai di anak tangga terakhir, aku melompat lalu menyambar lengan Rio.
Aku menenggelamkan mukaku di bahunya.
Rio merangkulkan tangannya di pundakku. Kami saling berangkulan. Kami berpelukan.

Aku merasa berdosa karena sudah
memagarinya dengan kebohongan yang aku buat, sekian lama ini. Tapi mencintai Riko di belakang Rio bukan sebuah kesalahan selama 6 bulan ke belakang, bagiku.

Aku bahagia, ahhh sudah, aku saja benar-benar tidak tahu mendeskripsikan rasa cintaku pada Riko, yang tercipta di balik hubunganku dengan Rio. Riko sudah pergi duluan sebelum sempat membongkar semuanya, seperti yang akan kami wujudkan, tapi gagal.

Biarlah keadaan ini jadi kenangan yang menyelimutiku. Wajah sore memias tertutupi gelap malam yang tak sabar datang. Aku menyeka air mata yang menyeruak keluar. Lembap membasahi jaket Rio yang terkena air mata.
Lembap, karena wajahku terbenam dalam
dada bidang Rio. Dia tak banyak bicara,
apa lagi tanya, dia hanya diam dan membiarkanku merasa puas tenggelam
dipelukannya.

Aku mencintaimu. Rio... Riko.

0 comments:

Post a Comment